Jumat, 12 Juli 2013

Indonesian-German Intercultural Summer School 2012


Sebanyak enam orang mahasiswa UIN Suska Riau dan satu dosen pendamping yang mengikuti program 2012 Indonesian-German Intercultural Summer School telah kembali dengan selamat. Berbagai pengalaman positif yang didapatkan selama summer school semoga tidak hanya menjadi memori indah, namun juga diterapkan dan jika mungkin, ditularkan kepada mahasiswa lain.
Tiga orang mahasiswa berasal dari Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK), yaitu Adhitya Fernando (Pend. Kimia), Syamsuddin Muhammad (Pend. B. Inggris) dan Intan Septia Latifa (Pend. B. Inggris). Sedangkan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) adalah Chairum Bahri, Siti Sanisma dan M. Isnaini Hadiyul Umam, semuanya dari Jurusan Teknik Industri. Mahasiswa UIN Suska tersebut didampingi oleh Kunaifi, ST., PgDipEnSt., MSc., dosen FST dan sekaligus Ketua Dewan Pengurus Energy Research Center (EnReach) FST UIN Suska Riau. Keenam mahasiswa dipilih melalui seleksi bahasa Inggris dan pengetahuan dasar tentang topik summer school.
Indonesian-German Intercultural Summer School dimulai pada 2011 dan merupakan program tahunan yang diselenggarakan secara bergantian di Jerman dan Indonesia. Program ini merupakan inisiatif Prof. Dr-Ing. Magnus Jaeger dari Hochscule Amberg-Weiden (HAW) dan DAAD – sebuah lembaga kerjasama pendidikan internasional yang di-support oleh pemerintah Jerman. Pada tahun pertama, 2011, HAW dan UIN Sahid Jakarta telah memulai program ini di Jerman.
UIN Suska Riau bergabung pada tahun ke-dua, 2012. Partisipasi UIN Suska Riau merupakan bagian dari kerjasama UIN Suska Riau dan HAW Jerman yang digagas oleh FST UIN Suska dan ditandatangani pada 2009. Dari pihak UIN Suska, kerjasama ini dilaksanakan oleh EnReach di mana Kunaifi bertindak sebagai koordinator. Dalam masa 2 tahun setelah penandatanganan MoU, kedua belah pihak telah membuktikan kerjasama ini berjalan secara aktif.
Berbagai kegiatan bersama telah dilakukan oleh kedua universitas antara lain: (1) penelitian ekstraksi biofuel dari limbah kelapa sawit; (2) pendirian Pusat Studi Energi di FST UIN Suska; (3) instalasi dan monitoring sistem PLTS 1,7 kW di Kantor Gubernur Riau; (4) penelitian bersama tentang kinerja sistem PLTS tersambung jaringan listrik PLN di Pekanbaru; dan (5) Summer School 2012. Pada 2013 telah disepakati untuk melanjutkan kerjasama dalam bentuk: (1) publikasi internasional tentang kinerja sistem PLTS tersambung jaringan listrik PLN di Pekanbaru; (2) optimalisasi pembangkit listrik PLTS 5 kW di desa terpencil Kuantan Singingi; (3) workshop perancangan dan instalasi sistem energi matahari di Pekanbaru; (4) publikasi internasional tentang sistem PLTS di desa terpencil Propinsi Riau; dan (5) Indonesian-German Summer School 2013 di Jerman.
Summer school tahun 2012 ini diadakan di Indonesia selama 10 hari, 9 sampai 19 Oktober 2012. Kegiatan dilaksanakan di empat tempat terpisah; Jakarta, Tangerang, Kepulauan Seribu dan Yogyakarta. Sebanyak 15 orang mahasiswa dari HAW Jerman bergabung dengan 11 orang mahasiswa UIN Sahid Jakarta dan 6 orang mahasiswa UIN Suska Riau. Mahasiswa HAW Jerman didamping Prof. Dr-Ing. Magnus Jaeger dan Prof. Dr-Ing. Manfred Beham, sedangkan mahasiswa UIN Sahid Jakarta didamping Prof. Dr. Margareth Gferer dan Dr. Lily Surayya EP.
Topik summer school 2012 adalah “renewable energy, entrepreneurship and leadership.” Sesuai topik tersebut, target program ini adalah mengidentifikasi peluang-peluang bisnis dalam bidang energi terbarukan dengan modal kepemimpinan yang kuat. Summer school diselenggarakan melalui metode bervariasi; kuliah, praktek, presentasi, studi lapangan, dan tugas-tugas berbentuk studi kasus. Selain itu kegiatan juga diisi dengan pengenalan kebudayaan kedua Negara. Mahasiswa dibagi dalam kelompok-kelompok kecil yang merupakan kombinasi laki-laki dan perempuan, Indonesia dan Jerman, dan disiplin ilmu berbeda. Di dalam kelompok, mahasiswa belajar dalam sessi kuliah, mengerjakan tugas studi kasus dan presentasi hasil kerja kelompok.
Bagian pertama kegiatan summer school disambut oleh hiruk pikuk dan kemacetan kota Jakarta. Pada bagian ini dilakukan kuliah untuk memperkenalkan teori-teori kewirausahaan, kepemimpinan dan energi terbarukan, bertempat di UIN Sahid Jakarta. Mahasiswa juga diperkenalkan kepada high-efficient cooking oven (HECO), sebuah kompor efisiensi tinggi yang dirancang oleh HAW Jerman yang bekerja dengan bahan bakar pellet limbah kayu. HECO dirancang untuk membantu mengatasi persoalan krisis energi untuk keperluan rumah tangga. Dengan bahan bakar biomassa yang bersifat terbarukan, HECO adalah  teknologi tepat guna yang sesuai untuk aplikasi di kawasan pedesaan Negara-negara berkembang. Dalam kunjungan ke sebuah desa di Tangerang, mahasiswa mendemonstrasikan HECO untuk memasak makanan bersama penduduk setempat. Bagian pertama ini diakhiri dengan German Evening, di mana mahasiswa Jerman memperkenalkan kebudayaan Jerman termasuk kesenian, permainan tradisional dan masakan khas. Sedikit kekakuan yang mewarnai hari-hari pertama antara mahasiswa kedua Negara menjadi cair pada German evening.
Bagian kedua dilaksanakan di Kepulauan Seribu. Di dalam kelompok, mahasiswa mengidentifikasi kebutuhan energi listrik di sebuah pulau yang terisolasi dan kemudian merekomendasikan solusi yang potensial menggunakan energi terbarukan. Melalui proses pencarian data yang melibatkan masyarakat dan pemerintah Kepulauan Seribu, mahasiswa kemudian mengusulkan sistem hibrida sebagai solusi masa depan di mana energi matahari, energi angin, dan teknologi lain, digabungkan dalam suatu sistem pembangkit listrik yang mencukupi kebutuhan setempat. Bagian kedua ini ditutup dengan kegiatan snorkeling, acara bakar ikan dan berbagai permainan di pantai Pulau Pramuka yang diikuti mahasiswa dan dosen kedua Negara hingga tengah malam.
Setelah perjalanan panjang menggunakan bus selama 15 jam dari Jakarta menyusuri berbagai desa yang permai dan kota-kota yang cantik, bagian ketiga dilakukan di Pabrik Gula Madukismo dan Pabrik Gula Tasik Madoe PTPN IX di Yogyakarta. Pabrik Gula Madukismo adalah salah satu pabrik gula terbesar dan tertua di Indonesia yang menghasilkan produk akhir gula dan alkohol. Sedangkan Pabrik Gula Tasik Madoe memiliki kapasitas produksi lebih kecil dan hanya memproduksi gula. Pada bagian ini mahasiswa mengamati proses produksi gula; mulai dari penanaman tebu hingga pemasaran produk. Fokus pengamatan adalah efisiensi energi dari berbagai tahapan produksi. Mahasiswa mengikuti semua bagian dari proses produksi di kedua pabrik. Di bagian akhir, setelah kunjungan wisata ke kawasan Malioboro, mahasiswa mempresentasikan hasil pengamatan dan mengusulkan rekomendasi untuk meningkatkan efisiensi proses produksi sehingga memberikan keuntungan lebih besar kepada perusahaan dan membuat perusahaan lebih ramah lingkungan.
Bagian keempat dilaksanakan di Pantai Baru Bantul, Yogyakarta. Mahasiswa mengamati beberapa sistem pembangkit listrik hibrida (PLH) skala besar yang menggabungkan energi matahari dan energi angin. Mahasiswa juga mengamati penggunaan energi listrik yang dihasilkan untuk pembuatan es balok untuk nelayan, es kristal untuk pedagang setempat, dan kebutuhan listrik masyarakat desa setempat. Pada bagian ini mahasiswa juga mengunjungi pusat pelatihan dan bengkel energi terbarukan milik Kementerian Ristek di Bantul. Di bagian akhir, sebelum kunjungan ke Candi Prambanan, mahasiswa melaporkan hasil pengamatan dan merekomendasi perbaikan pengelolaan sistem PLH dari aspek managemen, efisiensi penggunaan, dan tariff penjualan listrik kepada masyarakat setempat.
Bagian terakhir adalah acara perpisahan sekaligus Indonesian Evening. Mahasiswa Indonesia memperkenalan kekayaan budaya, bahasa, dan adat istiadat Indonesia. Penampilan khusus dari mahasiswa UIN Suska Riau mendapat sambutan antusias dari semua peserta. Mahasiswa Riau memperkenalkan kebudayaan Melayu dan pertunjukan tari Zapin, mengenakan kostum Teluk Belanga. Mahasiswa Indonesia, dibantu oleh mahasiswa UGM Yogyakarta, juga memperkenalkan makanan populer Indonesia seperti bakso, siomay dan mie goreng.
Acara Indonesian evening mengakhiri summer school 2012 secara amat manis. Semua peserta dari kedua Negara yang awalnya larut dalam kegembiraan joget dangdut dan berbagai permaianan tradisional Indonesia, kemudian terdiam dalam perasaan haru diiringi tangis ketika ucapan Auf Wiedersehen alias selamat berpisah tersangkut di kerongkongan.
Sie sehen in Deutschland im Jahr 2013 (sampai jumpa di Jerman tahun 2013), insya Allah.
Pekanbaru, 15 Oktober 2012.
Kunaifi (EnReach; www.enreach.or.id)
Syamsuddin Muhammad (Jur. Pend. B. Inggris Fak. Tarbiyah dan Keguruan UIN Suska Riau)

Beberapa foto-foto summer school 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar